Rakyatpos.id, Ketapang,— Upaya penyelamatan satwa kembali dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bekerja sama dengan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Ketapang Selatan.
Satu individu orangutan jantan dewasa yang sempat memasuki area perkebunan warga di Dusun Sumber Priangan, Desa Simpang Tiga Sembelangaan, Kabupaten Ketapang, telah berhasil ditranslokasikan ke Hutan Lindung Gunung Tarak.
Orangutan tersebut sebelumnya dilaporkan beberapa kali memakan buah-buahan milik warga seperti jambu, kelapa, dan nanas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menindaklanjuti laporan itu, tim dari Orangutan Protection Unit (OPU) YIARI melakukan verifikasi di lapangan dan memutuskan untuk mengevakuasi satwa tersebut demi menghindari konflik antara manusia dan orangutan.
Proses penyelamatan dilakukan dengan pembiusan oleh tim medis YIARI. Orangutan yang diperkirakan berusia 20–30 tahun dengan berat sekitar 60–65 kg itu sempat diperiksa secara menyeluruh. Ditemukan luka lama pada tangan kiri dan kerusakan gigi, namun kondisi umum dinyatakan cukup baik untuk kembali dilepasliarkan ke alam.
Pelepasliaran dilakukan di Hutan Lindung Gunung Tarak yang secara ekologis dinilai cocok dan memiliki populasi orangutan yang relatif rendah. Kawasan ini juga terkoneksi langsung dengan Taman Nasional Gunung Palung, habitat penting bagi orangutan Kalimantan.
Perjalanan ke lokasi pelepasliaran memakan waktu sekitar tujuh jam dan melibatkan masyarakat sekitar yang turut membantu membawa kandang ke dalam hutan. Orangutan menunjukkan respons positif dengan segera menjauh ke dalam hutan, menandakan kesiapan untuk hidup mandiri.
Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam pelestarian satwa liar. “Ini adalah langkah kecil dengan dampak besar bagi masa depan keanekaragaman hayati Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala KPH Ketapang Selatan, Kuswadi, mengimbau masyarakat untuk terus menjaga kelestarian Hutan Lindung Gunung Tarak sebagai habitat penting bagi berbagai jenis satwa.
Kepala BKSDA Kalbar, Murlan Dameria Pane, juga menyatakan bahwa translokasi ini merupakan bentuk respons cepat terhadap potensi konflik manusia dan satwa liar, serta bagian dari upaya menjaga kelestarian biodiversitas di Kalimantan Barat.
Penulis : Kusmana
Editor : Kusmana
Sumber Berita : Ketapang, Kalimantan Barat


















