PETI Marak di Sungai Batang Suhaid, Warga Keluhkan Air Keruh

- Jurnalis

Selasa, 23 September 2025 - 05:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suasana Suhaid tambang emas

Suasana Suhaid tambang emas

Rakyatpos.id, Kalbar– Aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) kembali marak di aliran Sungai Batang Suhaid, Kecamatan Suhaid, Kabupaten Kapuas Hulu.

Sejak sekitar seminggu lalu, sejumlah lanting (pontoon tambang emas) beroperasi di lokasi Nanga Ramut, Pintas Belaban, Pintas Pandak, hingga Lubuk Besar.

DL, warga Sungai Batang Suhaid, mengungkapkan aktivitas PETI semakin mengkhawatirkan karena selain merusak lingkungan, juga menimbulkan keresahan warga.

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ironisnya, kata dia, para pemilik lahan justru menarik pungutan dari setiap lanting yang beroperasi.

“Sekarang pemilik tanah berkuasa atas upeti. Mereka menarik inkam Rp300 ribu per lanting setiap harinya,” ujar DL, Sabtu lalu.

Menurut informasi yang di terima warga, sejumlah nama di sebut sebagai pihak yang memungut upeti tersebut, di antaranya Bambang Dewa, Unggal Amat, Dadang Manaf, Mamat, dan Pak Awi.

“Mereka ini yang semacam berkuasa, tapi tidak memikirkan dampak yang kami terima,” tambahnya.

DL menuturkan, warga kini sangat kesulitan mendapatkan air bersih. Aliran sungai yang selama ini menjadi sumber kebutuhan sehari-hari tercemar akibat aktivitas penambangan emas.

“Kami tuk warga Batang Suhaid sangat kecewa. Sampai hari ini belum ada aliran air bersih yang dipasang ke rumah. Yang kami terima hanya limbah dari aliran sungai tempat sidak kerja emas. Mereka dapat hasil, kami dapat air keruh dan kotor, jauh dari kata layak konsumsi, apalagi digunakan mandi,” tegasnya.

Lebih lanjut, DL menyebut bahwa janji perbaikan sarana air bersih sudah sering terdengar sejak bertahun-tahun lalu, namun tidak pernah terealisasi.

“Janji tinggal janji. Dari pertama mereka kerja sampai sekarang, tidak ada yang di realisasikan. Daerah ini di sebut punya potensi, tapi kenyataannya jauh dari kata sejahtera,” ungkapnya.

Warga berharap pemerintah daerah dan aparat penegak hukum turun tangan menertibkan aktivitas PETI yang semakin marak di Sungai Batang Suhaid. Selain menimbulkan kerusakan lingkungan, aktivitas tersebut juga memperparah kesulitan air bersih yang dialami masyarakat setempat.

Berita Terkait

Diduga Langgar Prinsip Good Governance, Proyek Desa Molosipat Utara Terancam Dilaporkan
Polsek Silat Hilir Berantas PETI di Desa Perigi
Diduga Tak Laksanakan Kewajiban Plasma, Fitra Ramadhan Pertanyakan Komitmen HTI Grup
Penyalur APMS PT. DSJ Bantah Tuduhan Penyelewengan BBM
BEM Prov ke Mana Saat Rakyat Menjerit? Wahyu Pilobu Kritik Sikap Mahasiswa yang Terlambat Bersuara
Biomassa Grup Tanggap Bencana, Salurkan Bantuan dan Tegaskan Komitmen Lingkungan di Pohuwato
Aktivitas PETI di Kapuas hulu, warga pertanyakan Sikap APH
Kebebasan Pers Terancam: DPD PJS Gorontalo Kecam Dugaan Ancaman terhadap Jurnalis

Berita Terkait

Selasa, 23 September 2025 - 05:56 WIB

PETI Marak di Sungai Batang Suhaid, Warga Keluhkan Air Keruh

Kamis, 10 Juli 2025 - 11:19 WIB

Diduga Langgar Prinsip Good Governance, Proyek Desa Molosipat Utara Terancam Dilaporkan

Jumat, 4 Juli 2025 - 10:36 WIB

Polsek Silat Hilir Berantas PETI di Desa Perigi

Minggu, 29 Juni 2025 - 16:40 WIB

Diduga Tak Laksanakan Kewajiban Plasma, Fitra Ramadhan Pertanyakan Komitmen HTI Grup

Rabu, 25 Juni 2025 - 16:45 WIB

BEM Prov ke Mana Saat Rakyat Menjerit? Wahyu Pilobu Kritik Sikap Mahasiswa yang Terlambat Bersuara

Berita Terbaru

Uncategorized

Aktivitas PETI di Sungai Batang Suhaid Kembali Marak

Selasa, 23 Sep 2025 - 07:28 WIB

Suasana Suhaid tambang emas

Breaking News

PETI Marak di Sungai Batang Suhaid, Warga Keluhkan Air Keruh

Selasa, 23 Sep 2025 - 05:56 WIB

Breaking News

Polsek Silat Hilir Berantas PETI di Desa Perigi

Jumat, 4 Jul 2025 - 10:36 WIB