Rakyatpos.id, Kalbar– Aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) kembali marak di aliran Sungai Batang Suhaid, Kecamatan Suhaid, Kabupaten Kapuas Hulu.
Sejak sekitar seminggu lalu, sejumlah lanting (pontoon tambang emas) beroperasi di lokasi Nanga Ramut, Pintas Belaban, Pintas Pandak, hingga Lubuk Besar.
DL, warga Sungai Batang Suhaid, mengungkapkan aktivitas PETI semakin mengkhawatirkan karena selain merusak lingkungan, juga menimbulkan keresahan warga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ironisnya, kata dia, para pemilik lahan justru menarik pungutan dari setiap lanting yang beroperasi.
“Sekarang pemilik tanah berkuasa atas upeti. Mereka menarik inkam Rp300 ribu per lanting setiap harinya,” ujar DL, Sabtu lalu.
Menurut informasi yang di terima warga, sejumlah nama di sebut sebagai pihak yang memungut upeti tersebut, di antaranya Bambang Dewa, Unggal Amat, Dadang Manaf, Mamat, dan Pak Awi.
“Mereka ini yang semacam berkuasa, tapi tidak memikirkan dampak yang kami terima,” tambahnya.
DL menuturkan, warga kini sangat kesulitan mendapatkan air bersih. Aliran sungai yang selama ini menjadi sumber kebutuhan sehari-hari tercemar akibat aktivitas penambangan emas.
“Kami tuk warga Batang Suhaid sangat kecewa. Sampai hari ini belum ada aliran air bersih yang dipasang ke rumah. Yang kami terima hanya limbah dari aliran sungai tempat sidak kerja emas. Mereka dapat hasil, kami dapat air keruh dan kotor, jauh dari kata layak konsumsi, apalagi digunakan mandi,” tegasnya.
Lebih lanjut, DL menyebut bahwa janji perbaikan sarana air bersih sudah sering terdengar sejak bertahun-tahun lalu, namun tidak pernah terealisasi.
“Janji tinggal janji. Dari pertama mereka kerja sampai sekarang, tidak ada yang di realisasikan. Daerah ini di sebut punya potensi, tapi kenyataannya jauh dari kata sejahtera,” ungkapnya.
Warga berharap pemerintah daerah dan aparat penegak hukum turun tangan menertibkan aktivitas PETI yang semakin marak di Sungai Batang Suhaid. Selain menimbulkan kerusakan lingkungan, aktivitas tersebut juga memperparah kesulitan air bersih yang dialami masyarakat setempat.


















